admin@coach August 2, 2018

kencana panelindo

harga acp – Di jeda-jeda wilayah pemukiman padat Gadog, Bogor, Jawa Barat, ada sebuah bangunan berbentuk unik dan berdiri megah bernama Giri Wijaya yang dalam bahasa Indonesia ialah Gunung Wijaya. Lokasinya masih di sekitar kaki Gunung Pangrango.

Nama Wijaya diambil dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), sebagai pemilik gedung hal yang demikian. Bangunan dengan tampilan unik ini difungsikan sebagai sentra pelatihan kepemimpinan para petinggi perusahaan, yang dibuka untuk masyarakat awam.

Bermukim di Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bangunan yaitu komponen dari komplek sentra pelatihan yang diberikan nama Wikasatrian.

Untuk menempuh lokasi ini tak lah suit, cuma berjarak 30 menit dari puntu tol Puncak. Bagi pengunjung yang berkeinginan menempuh daerah ini cuma tinggal meniru jalan ke arah puncak sampai menemukan sebuah jembatan memasuki tanjakan tajam.

Dari tanjakan ini, pengunjung berbelok ke ke kiri. ialah satu-satunya belokan yang ada sesudah jembatan tadi. Demikian menjelang belokan tadi, cuma tinggal meniru jalan sampai menemukan sebuah sekolah dasar dengan artikel “Wikasatrian” berwarna hitam emas dengan panah menunjuk ke kiri.

Dari posisi ini, banyak yang tak percaya bahwa akan ditemukan daerah megah yang disebutkan di permulaan tadi. Benar saja, sebuah jalan kecil mempunyai lebar kurang lebih 3 meter cuma dapat dilewati sebuah kendaraan beroda empat satu arah saja.

Kecuali sempit, jalur ini juga dipadati rumah-rumah warga yang hampir tidak berjarak dengan bibir jalur. Malah, beberapa atap rumah warga hal yang demikian hingga masuk ke dalam badan jalan yang membikin sebuah kendaraan bis berukuran tanggung susah untuk bergerak.

Tapi, apabila menyusuri terus jalan ini, karenanya kejutan akan ditemukan. Bertuliskan Wikasatrian, pengunjung akan disambut oleh sebuah gerbang besar yang disambung dengan tanjakan cukup terjal.

Berdasarkan Tonny Warsono yang menjabat Pamong Utama komplek sentra pelatihan ini, kontur tanah sengat dipertahankan seperti itu untuk menjaga kesan natural.

“Biar menantang,” tuturnya ketika mengunjungi lokasi ini, Sabtu (13/12/2014).

Benar saja, suasana asri segera terasa demikian itu menjelang gerbang. Panorama perumahan padat yang semula menyesakkan mata berganti dengan deretan pohon-pohon yang rimbun dan asri.

Tiba di zona parkir, jalur menanjak telah menanti. Tidak usah kuatir akan merasa lelah sebab segarnya udara membikin bobot berat di pundak terasa lebih ringan.

Mencontoh jalan ke atas, akan ditemui sebuah zona perkemahan. “Sentra pelatihan ini tak dibangun kamar-kamar permanen sebab memang di desain untuk mendekatkan peserta pelatihan dengan alam. Makanya kita gunakan kemah perkemahan sebagai ganti kamar tidur,” jelasnya.

Walaupun berbentuk kemah, tidak perlu kuatir, sebab kemah ini di desain dengan benar-benar nyaman. “Dan yang pasti tak bocor. Wajib coba sendiri, tidak dapat disebutkan dengan kata-kata,” sambungnya.

Melanjutkan perjalan sisi atas areal wilayah, akan ditemui bangunan bernama Giri Boga. Layak namanya, ‘Boga’ bangunan ini memang yaitu sentra aktivitas masakan sekalian zona makan. Dari jasmani bangunan, tidak menonjol terlalu istimewa.

Cuma bangunan beratap genteng yang dilengkapi dengan zona makan dan taman. Menariknya, panorama dari lokasi ini benar-benar cantik, menuju segera ke Gunung Gede Pangrango. lah yang menjadi kelebihan Giri Boga, menyantap makanan, dipandu udara segar dan panorama cantik, ialah sebuah pengalaman istimewa yang jarang dijumpai di lokasi lain.

Melanjutkan perjalanan ke zona yang lebih tinggi, akan ditemukan hamparan lapangan rumput hijau yang cukup luas hampir seukuran sebuah lapangan bola. Di ujungnya, sebuah bangunan unik sudah menanti untuk dikunjungi.

lah, Giri Wijaya yang diceritakan di permulaan, fasad atau tampilan muka bangunan ini dapat dikatakan unik. Sepintas bangunan ini menyerupai rumah kura-kura, tapi apabila diamati lebih terang menonjol bagaiman segala komponen dari bangunan ini tidak simetris alias tak sama antara sisi kanan dan sisi kirinya.

“Kita sengaja buat asimetris (tak rata sisi kanan dan kiri). Aku ajak berputar Anda akan tahu tujuan bangunan ini diciptakan demikian ini,” ujarnya.

Menjelang ruangan, Anda akan disambut dengan sebuah pintu kaca lebar berpadu dengan dinding melengkung. Lalu disambut dengan meja kayu yang formatnya seperti aliran ombak di lautan.

Di sisi belaknganya ada sebuah ornamen hiasan berbentuk Kapal Pinisi. Jikalau diamati dari depan, karenanya akan menonjol kapal pinisi ini seperti berlayar di atas lautan komplit dengan ombaknya.

Berbelok ke kiri, Anda akan menjumpai ruangan pertama dan menjadi ruangan paling luas di bangunan ini. Namanya ialah Giri Sasana. Ruang ini berfungsi sebagai daerah sentra pelatihan. Sekitar 200 bangku dan meja dibentuk berundak ke belakang.

Formasi bangku ini memungkinkan tiap-tiap orang dapat mengamati segera ke arah pentas tanpa terhalang oleh orang lain yang berada di depannya. Tiap-tiap meja dilengkapi dengan pengeras bunyi, benar-benar modern.

Komponen paling menarik dari pentas ini ialah latar belakangnya yang berupa susunan kaca-kaca lebar yang mengaitkan komponen dalam ruangan dengan komponen luar ruangan. Walhasil, menjalani pelatihan di dalam ruangan ini, para peserta akan menikmati sensasi seperti berada di luar ruangan.

Beranjak ke ruang selanjutnya, ialah Giri Kultur. Untuk menuju ruangan ini, akan dijumpai sebuah zona yang cukup lebar dan disambut dengan komponen lantai berjenjang alias split tahapan tiga tingkat.

“Ruangan ini ialah tahapan berikutnya yang kami desain untuk tiap-tiap pelatihan yang ada di sini. Di sini ada pelatihan kebiasaan berupa wayang dan gamelan,” katanya.

Sama seperti ruang sebelumnya, Giri Kultur juga dilengkapi dengan kaca-kaca lebar yang membikin sensasi bahwa berada di ruangan ini seperti berada di luar ruangan. Panorama serba hijau dari rerumputan dan pohon-pohon yang ada di luar, seperti menyeruak ke dalam bangunan.

Beranjak ke tahapan selanjutnya ialah Giri Pustaka. Berisi koleksi buku pengajaran kebiasaan dan sejarah bangsa Indonesia.

Menilik keseluruhan jasmani bangunan ini, komponen kaca-kaca lebar tadi dikombinasikan dengan dinding-dinding yang berbentuk menyerupai sirip-sirip yang jumlahnya ada 7 dari sisi atas ke bawah.

Menyangga sirip-sirip ini, ada pilar-pilar beton yang diciptakan dari cor baja yang dicat senada dengan sirip-sirip tadi yakni warna putih.

“Sirip itu 7 sebab 7 itu simbol yang bagus-bagus. Langit ada 7 lapis, samudera ada 7. Di bangsa kita juga kapal pinisi layarnya ada 7. Dan lainnya,” terang Tonny.

Keunikannya tak hingga di sini. Jikalau di lihat dari atas, lanskap bangunan ini menyerupai format tubuh Semar. lah alasan kenapa bangunan ini tak simetris antara satu sisi dengan sisi lainnya.

 

Sumber: http://kencanapanelindo.com/